Lombok Timur. SK_Sadar atau tidak bahawa seorang penguasa,
baik penguasa kedatuan, penguasa kerajaaan, dan penguasa lainya pada zaman dahulu menjadi cerminan generasi hari ini. Khususnya para penguasa dan rakyatnya.
Dalam pandangan penulis, dilihat dari cara berbahasa, raja tempo dulu menggunakan bahasa kasar. Berbeda dengan sikap dan prilaku ataupun tutur bahasa yang disampaikan oleh seorang perajurit lebih mengedepankan kelembutan.
Jika kemudian ini dikomparasikan dengan sikap dan prilku sekarang, maka mereka yang berbahasa lembut dapat dikategorikan mereka adalah berketurunan kaum perajurit, dan sebaliknya mereka yang bahasa kasar adalah seorang berketurunan Raja.
Tiang, enggih, meran dawek, dan lainya merupakan bahasa dikategorikan
lembut. Dan ucapan anta, Loq, Aok, dan selanjutnya adalah bahasa Kasar. Nah dapat
kiat simpulkan
siapa yang berkturunan raja dan siapa kturunan parjurit.? Dalam kebiasaan masyarakat susku sasak, ada segelintir oknum mengklaim diri bangsawan dengan menunjukkan bahasa lembutnya.
Dan mereka seteah mendengar celotehan bahasa lembut kategori keturunan Prajurit, maka merekapun merubah perilku lembutnya menjadi kasar agar dikategorikan berketurunan Raja.
Mempertanyakan siapa yang keturunan raja dan prajurit memang tak perlu dipertanyakan. namun penting untuk dirunut kebelakang bahwa semua manusia/ mahluk Allah, baik keturunan bangsawan, anak amaq kangkung, anak priyai, Loq, lalu, baiq dan lainya adalah sama di mata Allah, namun yang membedakan iman dan takwa.
Selain itu, mempertanyakan keturunan siapa dan kasta apa tidaklah amat penting. Yang terpenting adalah melihat apa yang telah diperbuat pada agama, nusa dan bangsanya.
siapa yang berkturunan raja dan siapa kturunan parjurit.? Dalam kebiasaan masyarakat susku sasak, ada segelintir oknum mengklaim diri bangsawan dengan menunjukkan bahasa lembutnya.
Dan mereka seteah mendengar celotehan bahasa lembut kategori keturunan Prajurit, maka merekapun merubah perilku lembutnya menjadi kasar agar dikategorikan berketurunan Raja.
Mempertanyakan siapa yang keturunan raja dan prajurit memang tak perlu dipertanyakan. namun penting untuk dirunut kebelakang bahwa semua manusia/ mahluk Allah, baik keturunan bangsawan, anak amaq kangkung, anak priyai, Loq, lalu, baiq dan lainya adalah sama di mata Allah, namun yang membedakan iman dan takwa.
Selain itu, mempertanyakan keturunan siapa dan kasta apa tidaklah amat penting. Yang terpenting adalah melihat apa yang telah diperbuat pada agama, nusa dan bangsanya.
6 Komentar
Bahasa yang di katakan alus saat ini bukan lah bahasa lombok/sasak melainkan adopsi dari baret aik...
Bahasa alus sasak/lombok sebenarnya ada pada penyampaian di lombok ada 2 bahasa yang terlihat mencolok perbedaannya yakni ada bahasa yang akhiran A dan akhiran E ... Dalam titur lombok Akhiran E adalah bahasa yang alus namun bukan beraryi bahasa perajurit perlu di garis bawahi bahwa org lombok berkomunikasi mengunakan penjabaran seperti ini... Contoh dalam menyahut atau menjawab panggilan seseorang " andi mbe anta ? Jawabnya Ee inak mene aku... Bukan aaa da ngumbe? Org tua tua dulu mengajarkan generasinya menyahut mengunakan kata E bukan A... Inilah sebenarnya perbwdaan bahasa alus itu...