web analytics

Mahnun dan Munasih, Kisah Cinta Tibu Propok

#MAHNUN_MUNASIH
(Kisah Cinta berawal di Kokoq Tibu Propok) Part I

Terik matahari siang itu membuat Mahnun Bajang mempercepat langkahnya sambil menenteng Derijen untuk mengambil air minum. Entahlah siang itu benar-benar membakar kulit menjadikan darah mendidih. Mahnun ingin segera sampai di kokoq biasa tempatnya mengambil air dan mandi bersama teman-teman bajangnya yang dari dusun Dadan bara. Ingin rasanya ia langsung menceburkan diri bermanja ria lama di kokoq.
Seperti harapan Mahnun langsung saja menceburkan dirinya kedalam kokoq. Panas bumi yang dirasanya kini hilang seketika. Bumi terasa damai tak ada keramaian. Hanya gemercik air saja menambah syahdu bagai irama percikan gitar. Mahnun semakin larut dalam dunianya hingga merasa dunia miliknya saja. Sesekali Mahnun bersenandung lelakaq sasak membuat ia semakin betah di tengah kokoq.
Mahnun benar-benar larut dalam nostalgianya hingga tiada merasa kalau kini lehernya terlilit selendang.
Mahnun kaget ketika tersadar dan mencoba menepi ke batu tempatnya menaruh derijennya.
“Siapa yang punya selendang ini..?”
Hatinya bertanya penasaran sambil menghadapkan wajah menuju langit.
“Aaah tidak mungkin Bidadari turun mandi layaknya Nawang wulan pada kisahnya Jaka Tarub”

“Aah sepertinya tidak mungkin. atau memang benar adanya bidadari yang sering turun ke bumi mandi” Mahnun menggelengkan kepala kebingungan.
Rasa penasaran bergejolak dihatinya antara ingin mencari tau siapa sebenarnya pemilik selendang merah yang kini berada ditagannya. atau harus segera kembali kerumah membawakan Inaqnya air minum. sebab mingkin sajak Inaqnya sedang menunggu kedatanganya membawakan air untuk masak.
Gejolak yang menyelimuti fikirannya terus berputar-putar sebab rasa penasarannya yang begitu besar ingin mengetahui siapakah sebenarnya pemilik dari selendang yang bahkan kini sengaja dilingkarkannya dileher. ternyata rasa penasarannya memaksanya untuk mencari dan menelusuri kokoq.harapannya bisa menangkap bidadari layaknya Jaka tarub yang beristrikan Nawang ulan. apalagi dirinya yang masih Bajang belum punya pendamping hidup yang menjadi penentram hati. jadi tak salah bagi Mahnun untuk mencari sang pemilik selendang dan kalau benar pemilik selendang adalah bidadari yang sedang turunandi dari kayangan maka diapun akan mencoba melakukan hal yang sama layaknya Jaka tarub.
Mahnun terus melangkah mencari dengan bibir tersenyum seakan benoh-benih cinta sudah mengerogoti akal fikirannya. Benar saja. duagaan Mahnun benar adanya. ia melihat dari celah batu besar yang tak begitu jauh dari tempatnya biasa mandi bersama teman-teman bajangnya ada sosok perempuan yang sedang mencuci. entah dia bidadari ataukah dedare biasa yang berdusun sama dengannya.
Rasa penasaran terus saja bergejolak di hati Mahnun. Ia terus saja makin mendekat untuk memandangi bidadari yang kini didepannya.
Mata Mahnun berbianar ketika pandangannya makin dekat. Bidadari cantik jelita berkulit kuning langsat benar-benar nyata di hadapanya. Rambut hitam panjang berkilauan berpantulan dengan kilau matahari yang memaksa menerobos daun-daunan pohon.
Mahnun makin yakin yang didepannya adalah bidadari kayangan yang kiriman Tuhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *